Sabtu, 11 Juni 2011

DISCHARGE PLANNING



Pengertian :

Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Discharge Planning menunjukkan beberapa proses formal yang melibatkan team atau memiliki tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok lainnya (RCP,2001). Perawat/Bidan adalah salah satu anggota team Discharge Planner, dan sebagai discharge planner perawat/bidan mengkaji setiap pasien dengan mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi masalah actual dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama pasien dan keluarga, memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi pasien secara optimal dan mengevaluasi kesinambungan asuhan keperawatan / asuhan kebidanan. Merupakan usaha keras perawat demi kepentingan pasien untuk mencegah dan meningkatkan kondisi kesehatan pasien, dan sebagai anggota tim kesehatan, perawat/bidan berkolaborasi dengan tim lain untuk merencanakan, melakukan tindakan, berkoordinasi dan memfasilitasi total care dan juga membantu pasien memperoleh tujuan utamanya dalam meningkatkan derajat kesehatannya.

Tujuan Discharge Planning:

Tujuan dari discharge planning adalah meningkatkan kontinuitas, kualitas perawatan dan memaksimalkan manfaat sumber pelayanan kesehatan. Discharge Planning dapat  mengurangi hari rawatan pasien, mencegah kekambuhan, mencegah komplikasi, meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan pasien dan menurunkan beban perawatan pada keluarga dapat dilakukan melalui Discharge Planning ( Naylor, 1990 ). Menurut Mamon et al (1992), pemberian discharge planning dapat meningkatkan kemajuan pasien, membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum disebelum dipulangkan, beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa discharge planning memberikan efek yang penting dalam menurunkan komplikasi penyakit, pencegahan kekambuhan dan menurunkan angka mortalitas dan morbiditas (Leimnetzer et al,1993: Hester, 1996)
Seorang Discharge Planners bertugas membuat rencana, mengkoordinasikan dan memonitor dan memberikan tindakan dan proses kelanjutan perawatan (Powell,1996). Discharge planning ini menempatkan perawat/bidan pada posisi yang penting dalam proses pengobatan pasien dan dalam team discharge planner rumah sakit, pengetahuan dan kemampuan perawat/bidan dalam proses keperawatan dapat memberikan kontinuitas perawatan melalui proses discharge planning ( Naylor,1990 ) . Perawat/bidan dianggap sebagai seseorang yang memiliki kompetensi lebih dan punya keahlian dalam melakukan pengkajian secara akurat, mengelola dan memiliki komunikasi yang baik dan menyadari setiap kondisi dalam masyarakat. (Harper, 1998 ).

Keuntungan Discharge Planning :

Bagi Pasien :
-    Dapat memenuhi kebutuhan pasien
-    Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses perawatan sebagai bagian yang aktif dan bukan objek yang tidak berdaya.
-    Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya
-    Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan memperoleh support sebelum timbulnya masalah.
-    Dapat memilih prosedur perawatannya
-    Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa yang dapat dihubunginya.

Bagi Perawat/bidan :
-    Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di gunakan
-    Menerima informasi kunci setiap waktu
-    Memahami perannya dalam system
-    Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru
-    Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang berbeda dan cara yang berbeda.
-    Bekerja dalam suatu system dengan efektif.

Justifikasi Metode Discharge Planning:

Di Indonesia semua pelayanan keperawatan di Rumah Sakit , telah merancang berbagai bentuk format Discharge Planning, namun discharge planning kebanyakan dipakai hanya dalam bentuk pendokumentasian resume pasien pulang, berupa informasi yang harus di sampaikan pada pasien yang akan pulang seperti intervensi medis dan non medis yang sudah diberikan, jadwal kontrol, gizi yang harus dipenuhi setelah dirumah. Cara ini merupakan pemberian informasi yang sasarannya ke pasien dan keluarga hanya untuk sekedar tahu dan mengingatkan, namun tidak ada yang bisa menjamin apakah pasien dan keluarga mengetahui faktor resiko apa yang dapat muncul pada pasien masa nifas dan bayinya, penanganan apa yang dilakukan bila terjadi kegawatdaruratan terhadap kondisi ibu dan bayi,  untuk itu pelaksanaan discharge planning di rumah sakit sangat penting dimana akan memberikan proses deep-learning pada pasien masa nifas, hingga terjadinya perubahan perilaku pasien dan keluarganya dalam memaknai kondisi pasca melahirkan.

.
Reference :



Harper E.A. (1998). Discharge planning: An interdisciplinary method. Silverberg Press:
Chicago, IL.
New Brunswick Department of Health and Wellness (2002). Job definition of a discharge planning coordinator. Author: Fredericton, NB.

C. Levine, (1998) Rough Crossings: Family Caregivers’Odysseys through the Health Care System (New York: United Hospital Fund of New York City,), p. 35.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar